Pemuda Jangan Songong, yang Tua Jangan Sok: Dunia Butuh Kolaborasi, Bukan Kompetisi
“Beri aku 10 pemuda, maka aku akan guncang dunia. Tapi beri aku seribu orang tua, maka aku akan cabut Semeru dari akar-akarnya.”
Kalimat Bung Karno ini sering terdengar dalam berbagai kesempatan. Di upacara, seminar, sampai quotes motivasi. Tapi… apakah kita benar-benar paham maknanya?
Banyak yang menggunakan kutipan ini sebagai pembenaran. Yang muda merasa paling punya semangat. Yang tua merasa paling tahu segalanya.
Padahal, kalau dicermati lebih dalam, Bung Karno sedang mengajak kita berpikir tentang kolaborasi lintas generasi, bukan saling membandingkan kekuatan.
Dan ada satu hal penting yang sering luput:
Guncang dunia itu sudah sering terjadi. Tapi mencabut Semeru? Itu bahkan belum pernah terjadi—dan mungkin, mustahil.
Guncang Dunia Itu Biasa. Tapi Apa Dampaknya?
Setiap tahun, dunia mengalami guncangan—baik secara sosial, ekonomi, maupun moral. Perubahan iklim, konflik politik, revolusi teknologi, pandemi global… semuanya mengguncang dunia.
Bahkan seorang content creator yang viral pun bisa mengguncang dunia digital dalam semalam. Tapi pertanyaannya, apakah semua guncangan itu berdampak positif?
Guncang dunia tanpa arah, tanpa arah yang benar… justru bisa merusak.
Maka dari itu, penting bagi kita—terutama generasi muda—untuk tidak terjebak dalam rasa bangga semu. Semangat, keberanian, dan kreativitas itu luar biasa, tapi kalau tidak diarahkan dengan baik, bisa berubah jadi kesombongan yang destruktif.
Tapi Mencabut Semeru? Itu Bukan Cuma Soal Kekuatan
Semeru adalah salah satu gunung tertinggi dan paling kokoh di Indonesia. Kalau Bung Karno pakai metafora “mencabut dari akar-akarnya”, itu jelas sedang menggambarkan tantangan besar yang tidak bisa diselesaikan sembarangan.
Sampai hari ini, tidak ada satu pun yang berhasil mencabut Semeru. Artinya?
Pemimpin hebat bukan yang paling tua. Tapi yang mampu memobilisasi banyak orang untuk menyelesaikan hal-hal besar yang kelihatannya mustahil.
Namun di sisi lain, kita juga harus jujur… Banyak orang tua yang tidak mencabut apapun. Tidak Semeru, tidak bukit, bahkan tidak satu tantangan pun dalam hidupnya.
Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena sejak muda, mereka tidak pernah mengenali dirinya sendiri. Tidak pernah belajar tumbuh. Tidak pernah membuat arah.
Yang Muda Jangan Songong, yang Tua Jangan Sok
Ini bukan tentang siapa yang lebih baik, tapi siapa yang mau terus berkembang.
- Pemuda punya semangat, keberanian, teknologi, dan ide segar.
- Orang tua punya ketenangan, pengalaman, arah, dan kebijaksanaan.
Namun, keduanya bisa jatuh pada kesalahan yang sama:
Yang muda bisa jadi songong karena merasa tahu segalanya.
Yang tua bisa jadi sok karena merasa paling benar hanya karena lebih lama hidup.
Faktanya, menurut Harvard Business Review, kepemimpinan yang paling efektif justru datang dari mereka yang emosionalnya cerdas, dan mampu beradaptasi—bukan sekadar senioritas usia.
(Jika kamu tertarik baca lebih lanjut, materi seperti ini juga ada di artikel lainnya ZonaKita.)
